Mengapa memilih me redesain kemasan fanta Jeruk ?
Saat saya membeli makanan atau minuman yang
menggunakan kemasan bergambar, sebagai seorang desainer tentu selalu penasaran
dengan desain apapun itu, jadi saya memperhatikan kemasannya. Nah dalam kasus
ini, saya memperhatikan kemasan fanta jeruk kaleng. Beberapa hal saya
perhatikan mulai dari logo fanta, warna kaleng, dan desain gambar pada kaleng
yang terbilang minimalis. Jadi saya ingin membuat redesain fanta jeruk kaleng.
Kegiatan me – redesain tidak selalu karena
desain aslinya jelek atau kurang bagus. Namun bisa juga sebagai penyegaran
terhadap desain sebelumnya sehingga tidak monoton begitu saja. Kemasan menjadi
lebih fresh dan terdapat alternative desain yang dihasilkan dari kegiatan redesain sesuatu.
Apa yang
menajdi pertimbangan untuk me – redesain fanta jeruk kaleng ?
1. Warna Base
dan Desain pada Kaleng
Untuk warna
fanta jeruk kaleng menggunakan base warna Orange dengan 1 gambar jeruk dibawah
logo. Jadi untuk desain kaleng saya rombak dengan sedikit menurunkan toene
warna menjadi sedikit lebih gelap dan menambahkan ornament ornament jeruk pada
sekeliling kaleng. Konsep yang saya ambil disini adalah komposisi asimetris,
dimana tujuannya untuk mempertegas kesan “Jeruk” pada kemasan, membuat kemasan
menjadi lebih menarik dan tidak terlalu minimalis.
2. Logo Fanta
Logo fanta berwarna
biru tua dengan balutan stroke putih. Saya redesain dari segi ukuran dan tingkat
kelengkungannya saya kurangi. Warna sedikit saya naikkan tone nya, namun masih
dengan balutan stroke putih agar logo kontras dengan kemasan dan dapat menjadi
point of interest pada kemasan. Karena logo merupakan identitas utama
perusahaan fanta.
Apa yang
saya tawarkan untuk hasil redesain ini?
1. Adanya alternative
logo dan kemasan untuk kedepannya.
2. Kemasan
menjadi lebih menarik dengan balutan ornament – ornament jeruk pada sekeliling
kaleng.
3. Kemasan
menjadi lebih fresh.
4. Logo
lebih simple dan berani dengan font yang lebih tegas sesuai dengan produk yaitu
minuman bersoda. Logo sebelumnya terkesan lembut karena bentuk font pada logo
yang terlalu rounded.
Dalam me-redesain ini saya menggunakan teori
semiotika dari Julia Kristeva yaitu Prinsip Intertekstual.
Teks itu tidak hanya berupa
tulisan saja, tetapi juga lakon, tari, lukisan, foto, relief, media iklan,
film, aktivitas dan artefak budaya, objek, bentuk, dan sebagainya.
Prinsip intertekstual adalah
konsep dialogisme sehingga dalam karya seni tidak lain merupakan mosaik
kutipan-kutipan dari karya seni sebelumnya.
Intertekstual – Orisinalitas
adalah Ilusi, Tidak Ada yang Asli.
Jadi dalam me redesain kemasan ini, saya masih menggunakan
beberapa teks dari desain sebelumnya baik itu warna, bentuk logo, ornament, dan
sebagainya.
Berikut Perbandingan Hasil Re-desain dengan Kemasan Asli